Breaking

blog single post
Printing

Tukang Ngeprint di Era Digitalisasi, Masih Eksis atau Tidak?

Seluruh bidang usaha memiliki risiko yang sama, jika tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Maka, usaha itu pun akan mati dengan sendirinya. Hal itu juga melanda tukang 'ngeprint' depan kampus. Di mana, mereka harus menghadapi kenyataan para mahasiswa yang lebih banyak mendapat tugas melalui email, bukan lagi selembar kertas yang harus digandakan atau fotokopi.

 

Banyak tukang 'ngeprint' depan kampus yang mampu bertahan karena berhasil beradaptasi dengan serangkaian strategi bisnis. Namun, ada juga yang harus mati karena tidak mampu beradaptasi di era digital.

 

Semua yang awalnya bersifat manual, seperti tugas kampus atau sekolah yang dulu sering difotokopi atau digandakan kini beralih ke digital. Tugas dari kampus atau sekolah kini seringnya dikirim melalui surat elektronik atau email. Setiap zaman itu menuntut berbeda, terutama di bidang teknologi, tentunya yang dulunya manual sekarang larinya ke digital.

 

Pengaruh paling terasa adalah menurunnya volume kertas yang digandakan dan dijilid. Sebelum teknologi booming, mudah mendapatkan proyek penggandaan. Seperti buku pelajaran yang difoto copy, hingga tugas makalah.  Sejumlah pengusaha percetakan dan fotokopi tak lantas menyerah. Sejumlah strategi usaha diupdate lagi disesuaikan dengan perkembangan teknologi. Setiap usaha percetakan kini memiliki fasilitas yang memudahkan para pelanggan. Sebut saja seperti komputer yang bebas digunakan untuk konsumen.

 

Sekarang, teknologi sudah semakin maju, internet pun sudah mudah didapat, jasa cetak online juga sekarang ada dimana-mana. Dosen pun sudah mulai membagikan tugasnya melalui email.  Ketersediaan komputer ini tentu menjadi hal yang baru dan memberikan kemudahan bagi konsumen. Berbeda di saat internet masih terbatas, konsumen yang datang sudah dipastikan langsung mencetak dan menjilid.

 

Tidak hanya itu, strategi yang dilakukan agar tokonya masih tetap eksis pun dengan memperluas produk percetakan, dari yang semula hanya cetak dan jilid tugas, serta fotokopi atau penggandaan, kini menerima cetak spanduk, id card, cetak gambar di gelas.
Menurutnya, seiring teknologi berkembang dengan pesat maka dalam menjalankan bisnis pun harus cepat beradaptasi. Dulunya toko percetakan tidak menyiapkan fasilitas komputer yang bisa digunakan oleh konsumen sebelum benar-benar mencetak dan menjilid. Sekarang, hampir semua toko menyediakannya.


Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Jadi tukang 'ngeprint' dan penjilidan pun masih mendapatkan omzet yang legit. Kondisi bisnis percetakan di era digital seperti searang sangat berbeda dengan 10 tahun lalu, di mana internet masih terbatas. Sekarang banyak jasa cetak online yang menawarkan jasanya lewat internet dan social media.

 

Yang menjadi perbedaan adalah laba bersih yang diterima. Perbedaan itu dikarenakan biaya operasional toko 'ngeprint' dan penjilidan sekarang lebih tinggi. Kalau dulu sisi pengeluaran sedikit kalau sekarang banyak, seperti dari biaya operasional, bayar karyawan, sewa tempat. Setiap harinya toko fotokopi dan penjilidannya berhasil mendapatkan omzet Rp 5 - Rp 6 juta. Omzet yang didapatkannya itu bukan hanya berasal dari penggandaan, 'ngeprint', dan penjilidan saja. Tetapi, berasal dari produk percetakan lainnya, serta penjualan alat-alat tulis. Meski memiliki omzet yang masih legit, jasa cetak konvensional mengaku akan terus beradaptasi dengan perubahan zaman yang begitu cepat, sambil memberikan layanan dan fasilitas yang baik bagi para konsumennya untuk mengimbangi jasa cetak online.

 

Fenomena yang terjadi saat ini telah menjadi pertimbangan PrinterQoe untuk membuka jasa cetak online melalui aplikasi handphone. PrinterQoe menawarkan berbagai macam servis dari mulai penggandaan dokumen sampai dengan print digital yang canggih meliputi penjilidan, cetak kartu nama, cetak stiker, cetak spanduk, cetak backdrop dan lain-lain.

Sumber : Berbagai Sumber

Reaksi Anda:




Komentar


Belum Ada Komentar

Berikan Komentarmu